Review film Lady Bird

Pada fase kehidupan manusia, masa remaja dapat dikatakan sebagai masa yang paling penuh gejolak karena merupakan saat-saat pendewasaan diri. Film Hollywood Lady Bird mengangkat fase tersebut dalam kisah yang menarik dan layak disaksikan. Berbagai konflik yang diungkap dalam film ini berkaitan dengan hubungan antara ibu dan anak serta masalah keluarga yang mereka alami. Mendapat apresiasi yang luar biasa dari kritikus, termasuk New York Times yang menyebut film ini sebagai Kesempurnaan Pada Layar Lebar, tentu membuat kita ingin tahu bagaimana kisahnya.

 

Ulasan film Lady Bird

Film besutan Greta Gerwig ini menceritakan dengan humoris kehidupan sehari-hari seorang remaja putri yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat kita sekarang ini. Mengambil seting di tahun 2002, Christine McPherson (Saoirse Ronan) yang lahir dan tumbuh di Sacramento California merasa jenuh dengan kesehariannya. Ia berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke New York tetapi mendapat tentangan dari ibunya, Marion (Laurie Metcalf). Penyebabnya adalah kesulitan ekonomi yang mereka alami.

 

Christine sebenarnya sangat menyayangi ibunya dan demikian pula sebaliknya, tapi mereka berdua terlihat tak pernah berhenti bertengkar. Sejak awal film ini hubungan cinta dan benci antara Marion dan si Lady Bird memang sudah sangat ditonjolkan. Misalnya pada salah satu adegannya, dimana Christine melompat dari mobil yang tengah dikemudikan sang ibu. Tindakannya ini menunjukkan karakternya yang keras kepala dan sedikit nakal serta sering memprotes Marion.

 

Tak ada yang menyangkal bahwa film ini adalah film berkualitas mengingat namanya telah masuk dalam daftar 10 film terbaik versi Times di tahun lalu. Tak hanya plot cerita yang menarik, deretan aktris dan actor yang turut berperan dalam film ini rata-rata juga menunjukkan kualitas acting yang jempolan. Beberapa pemain pendukung, misalnya, Beanie Feldstein yang memerankan Julie Stefans, sahabat karib Christine dan dua karakter lelaki yang dekat dengannya.

 

Sosok Danny yang diperankan oleh Lucas Hedges, sukses memerankan karakter pria yang simple tapi sanggup menarik hati para gadis. Selain itu ada pula Kyle, si tampan nan misterius yang diperankan oleh Timothee Chalamet. Apresiasi besar juga dialamatkan untuk Lois Smith, yang membawakan karakter seorang biarawati yang gaul dan kocak. Berbagai peristiwa seru sekaligus jenaka banyak mewarnai film ini tanpa kehilangan makna dan pesan moralnya.

 

Kisah pendewasaan seseorang yang tentu saja tak pernah mulus, tampil dengan menarik melalui Lady Bird yang sarat unsur komedi. Film ini sebenarnya cukup ringan walaupun berkualitas tetapi juga sangat dapat dinikmati dengan dialog-dialognya yang mengundang tawa sekaligus cerdas. Apalagi acting total dan alami para pemain, visualisasi yang nyata, tak lupa gambaran kehidupan di tahun 2000-an yang terlihat begitu alami dengan kostum-kostum pemainnya membuat film ini kian menarik untuk ditonton.

 

Lady Bird tetap merupakan film yang istimewa walaupun mengangkat tema yang sudah cukup umum misalnya pada film Mamma Mia! (2008), Sparkle (2012), LOL (2012), dan Brave (2012). Penyebab Lady Bird mendapat apresiasi sedemikian rupa adalah karena absennya unsur dramatisasi yang keterlaluan. Dalam Lady Bird semua adegan terasa dan terlihat begitu alami sekaligus pas.

 

Film ini menunjukkan bahwa Gerwig juga sangat piawai sebagai sutradara pada debut pertamanya, setelah sekian lama berprofesi sebagai penulis scenario. Tangan dinginnya sanggup menghasilkan cerita yang segar, ringan, lucu, dan cerdas. Tak lupa, ia juga mengangkat dinamika yang terjadi pada banyak keluarga serta gambaran yang realistis akan kelas-kelas ekonomi yang tak sering diungkap dalam film bergenre komedi remaja.

 

Read More →